Pak Kyai pulang ke rumahnya sambil berangan-angan bahwa besok pagi ia akan mendapatkan uang lima juta di bawah bantal. Keesokan harinya dengan hati berdebar pak Kyai membuka bantalnya…
“Haahh? Uang seratus-ribuan! Lima puluh lembar!” walau begitu pak Kyai masih ragu apakah uang asli atau palsu. Ketika ia mencoba membelanjakan uang tersebut ternyata asli! Para pedagang menerima pembayaran uang itu.
“Alhamdulillah… aku akan membagi-bagikan pada fakir miskin. Bukankah besok aku dapat uang lagi.”
Pak Kyai mulai sibuk menghitung yang ia terima lima juta setiap hari. Rencana-rencana pun mulai ia susun. “Tiga hari lima belas juta. Sebulan seratus lima puluh juta. Aku akan beli mobil, motor, membangun rumah dan membangun masjid terindah di desa ini.”
Menjelang tidur angan-angan pak Kyai berkelana. Ia membayangkan masjid yang dibangunnya dipenuhi orang-orang untuk beribadah. Mereka berebut menyalami dan berfoto dengannya, mengelu-elukan kyai kaya yang dermawan. Ia tertidur pulas dengan tersungging. Sementara iblis menari-nari karena telah berhasil menjebak pak Kyai.
Di suatau pagi, pak Kyai terkejut manakala di balik bantalnya tidak ada lagi uang sama sekali.
“Mana uang itu…?! Betul-betul tidak bias dipercaya! Dasar iblis! Gagal rencanaku membangun masjid! Kutebang saja pohon itu. Biar tahu rasa!” dengan muka merah padam menahan amarah, pak Kyai bergegas menuju pohon besar itu. “Kali ini tidak ada kompromi…”
“Mau kemana pak Kyai?” pak Kyai terkejut mendengar sapaan iblis.
“Aku mau menebang pohonmu! Minggir!”
“Tak akan kubiarkan. Ayo hadapi aku!” perkelahian atara pak Kyai dan iblis pun tidak terelakkan lagi. Keduanya sama-sama mengeluarkan jurus-jurus andalan. Kali ini pak Kyai kuwalahan menahan serangan-serangan iblis. Ia pun tersungkur bertekuk lutut di bawah kaki iblis. Ia berteriak-teriak minta ampun tetapi iblis terus menginjak dadanya. Dengan congkak iblis berkata, “ Hai manusia sombong! Mana kekuatanmu!”
“Hai iblis! Kenapa kau mengalahkan aku?”
“Hahaha… kali ini kau ingin menebang pohon gara-gara tidak ada uang di bawah bantalmu. Ketika kau marah karena membela hokum atau aqidah Tuhanmu, maka kau berada dalam genggaman Alloh. Kau bagai biri-biri yang tak peduli ditinggalkan gembalanya karena syik terpikat menikmati rumput yang hijau. Maka leluasalah aku mengalahkanmu… hahaha! Pergi sana! Jangan ganggu pohonku lagi!”
Maka dengan gontai pek Kyai menyesali kelengahannya sehingga begitu mudah ia terperangkap oleh tipu daya iblis. “Ooh bodohnya aku… sungguh licik dan halus tipu daya iblis, kupikir kalau sudah menjadi Kyai tidak akan mudah terkecoh. Aku telah takabur sehingga lengah mau bekerja sama dengan iblis. Pelajaran berharga untukku aku harus selalu waspada dan tak akan berhubungan dengan iblis dalam hal apapun!”
End of story